<body>
<table width=”540″ border=”0″ align=”center”>
<tr>
<td><div align=”center”><img src=”file:///C|/Documents and Settings/Johan.CRUSADER.000/Desktop/January 2010/Batik/Batik sutra 13.jpg” width=”235″ height=”313″ /></div></td>
<td> <div align=”center”><img src=”file:///C|/Documents and Settings/Johan.CRUSADER.000/Desktop/January 2010/Batik/Batik sutra 1.jpg” width=”235″ height=”313″ /></div></td>
<td> <div align=”center”><img src=”file:///C|/Documents and Settings/Johan.CRUSADER.000/Desktop/January 2010/Batik/Batik sutra 10.jpg” width=”235″ height=”313″ /></div></td>
</tr>
</table>
</body>
Dalam sejarah, mode pola batik Cirebon tidak dapat dipisahkan dari kolaborasi antara agama, seni, budaya yang dibawa oleh berbagai suku dan bangsa di masa lalu. Sebelum abad ke-20, Cirebon, yang memiliki pelabuhan laut menjadi sebuah kota yang diperdagangkan berbagai produk yang berasal dari banyak pulau, banyak dikunjungi oleh pedagang dari berbagai etnis, termasuk pengusaha dari Cina dan Timur Tengah.
Berkumpulnya etnis dan budaya yang disebabkan oleh perdagangan, telah memberikan pengaruh seni dan budaya motif Cirebon. Pengaruh kebudayaan ini dapat dilihat dari kereta-kereta kebesaran yang terletak di kedua istana di Cirebon, yang merupakan “Singa Barong” kereta di Istana Kasepuhan dan “Peksi Naga Liman” Belanja di Istana Kanoman.Imajinasi bentuk-bentuk binatang seperti “Singa Barong” dan “Peksi Naga Liman” yang tercermin dalam pola batik Trusmi.
Modus pola Batik Istana dibagi menjadi 2 jenis. Pertama, jenis yang biasanya digunakan oleh “punggawa” atau “abdi dalam” (internal pelayan istana). Batik untuk “punggawa” memiliki pola yang besar dan kuat mode. Tipe kedua adalah tipe yang digunakan oleh kaum bangsawan, dengan lembut dan modus pola kecil. Warna asli batik Cirebon biasanya terdiri dari Sogan, hitam, biru tua, dan kuning.
Pengaruh budaya dan agama untuk pola Cirebon batik juga dilambangkan di piring batik dan “selampad” piring batik. Modus pola pada batik tersebut diilhami oleh susunan piring porselen Cina digunakan untuk hiasan dinding di Astana Gunung Jati Istana.
Batik dari orang-orang keturunan cina umumnya pedagang merah, biru, hijau, dan warna putih dan menjadi merek dagang batik pesisir.
Model pola juga diadopsi dari simbol-simbol yang terkait dengan mitos sejarah, seperti pola Centrum Bumi menunjukkan sebuah lubang di puncak Gunung Jati tempat pertemuan ulama Islam yang memiliki dan diskusi.
“Ayam Alas Gunung” melambangkan pola dan menyebarkan ajaran Islam dari Gunung Jati. Juga “Taman Arum Sunyaragi” melambangkan batik yang indah, keharuman taman tempat Raja bermeditasi untuk menutup diri kepada Allah.
Salah satu dari pengaruh budaya dan agama dapat dirasakan secara signifikan melalui mistik seperti “Kapal keruk” batik. Batik ini, sesuai dengan kepercayaan mistik, sangat berguna untuk dapat digunakan selama mencari ilmu. Di sisi lain, “Kapal Kandas” batik berguna untuk digunakan oleh dewasa dan orang dewasa yang tangguh dalam menghadapi kesulitan dalam hidup dan dalam mencapai tujuan mereka. (kembali dari berbagai sumber)